Laman

Senin, 13 Desember 2010

pestisida nabati

LAPORAN PRAKTIKUM
TEKNOLOGI INOVASI PERTANIAN
Acara : Pestisida Nabati
Tempat : Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan
Tanggal : 19 November 2010



Oleh
Nama : AHMAD NUR H.G.A
NIM : 091510501119
Gol/kel : D/4

JURUSAN HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS JEMBER
2010

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di era sekarang banyak petani dalam melakukan pengendalian hama menggunakan pestisida dari bahan kimia yang bertujuan agar hama bias secara cepat musnah,namun hal ini menimbulkan pencemaran lingkungan yang tanpa disadari oleh petani,yaitu mengakibatkan residu yang dapat membahayakan lingkungan dan juga manusia itu sendiri, Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.
Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya. Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan
ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya(Kardiman,2003).
Di era serba organik seperti sekarang ini, penggunaan pestisida organik cukup mendukung untuk mengatasi masalah gangguan serangan hama tanaman komersial. Pestisida organik pun dapat menjamin keamanan ekosistem. Dengan pestisida organik, hama hanya terusir dari tanaman petani tanpa membunuh. Selain itu penggunaan pestisida organik dapat mencegah lahan pertanian menjadi keras dan menghindari ketergantungan pada pestisida kimia. Penggunaan pestisida organik harus dilakukan dengan hati-hati dan dengan kesabaran serta ketelitian. Banyaknya pestisida organik yang disemprotkan ke tanaman harus disesuaikan dengan hama. Waktu penyemprotan juga harus diperhatikan petani sesuai dengan siklus perkembangan hama(Sudarsono. 2006).
Mimba mengandung bahan aktif azadirachtin (C35H44O16), meliantriol, salanin, nimbin, nimbidin dan bahan lainnya (Utami, 1999). Azadirachtin mengandung sekitar 17 komponen dan terdapat di semua bagian tanaman, terutama biji (Kardinan, 2000). Senyawa azadirachtin berfungsi sebagai reppelent (penolak), zat anti feedant, racun sistemik, racun kontak, zat anti fertilitas dan penghambat pertumbuhan (Nurtiati, dkk, 2001; Utami, 1999).
Dari beberapa pengujian di laboratorium diketahui bahwa ekstrak tanaman mimba bersifat toksik terhadap siput air Biomphalaria glabarata, siput ini merupakan inang cacing parasit penyebab schistosomiasis (bilharzia). Ekstrak buah mimba mampu mematikan hingga 100% siput Mel ani ascabra, siput ini banyak ditemukan di Asia Timur,merupakan vektor penyakit cacing hati (Neems Foundation, 2000; Gopalsamy et al., 1990).
Daun mimba yang masih segar dicuci bersih, lalu dikeringanginkan selama satu hari. Setelah itu dihaluskan dengan blender dan ditambahkan akuades sebagai pelarut yang dinyatakan dalam% (berat/volume atau b/v, yaitu gr/mL air). Daun yang telah dihaluskan diendapkan selama satu malam, kemudian disaring dengan kertas saring dan disimpan dalam botol kering, steril dan ditutup rapat. Selanjutnya ekstrak ini diencerkan dengan akuades untuk mendapatkan konsentrasi yang diinginkan sesuai dengan kelompok perlakuan (Kardinan dan Iskandar, 1997).
Tanaman Annona muricata (sirsak) mengandung zat toksik bagi serangga hama. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan pertumbuhan serangga terhambat, mengurangi produksi telur dan sebagai repellen (penolak) (Gruber dan Karganilla, 1989).
Kematian larva yang diakibatkan oleh ekstrak daun sirsak memperlihatkan indikasi tidak sempurnanya proses ekdisis terbukti dengan adanya sejumlah larva yang gagal melepaskan kutikula lamanya. Larva yang mengalami gejala ini lama-kelamaan akan mati dengan memperlihatkan gejala kematian akibat pengaruh simultan dari toksisitas ekstrak, kelaparan dan gagal melepaskan proses ganti kulit, terlihat adanya larva menjadi mengecil dan berwarna gelap (Gionar, 2004).
memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.
Kandungan daun sirsak mengandung senyawa acetoginin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Hartati, Z. 2002). Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan struktur 30–32 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 5-methyl-2-furanone. Rantai furanone dalam gugus hydrofuranone pada C23 memiliki aktifitas sitotoksik, dan derivat acetogenin yang berfungsi sitotoksik adalah asimicin, bulatacin, dan squamocin (Kardinan, A. 2000). Daun sirsak dapat digunakan untuk pengendalian hama Thrips pada tanaman cabai. Caranya adalah dengan menumbuk halus 50 sampai 100 lembar daun sirsak yang dicampur dengan 15 gram detergen dan 5 liter air. Larutan direndam selama 1 malam, kemudian disaring menggunakan kain halus. Untuk setiap 1 liter larutan hasil saringan, dicairkan dengan 10 sampai 15 liter air (Gazali, A., Ilhamiah. 1998).
Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.
Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya(Kardiman,2003).



1.2 Tujuan
Untuk mengetahui beberapa jenis pestisida nabati serta cara pembuatannya.


3.2 Pembahasan
Dari setiap pestisida memiliki karaktersitik dan keunggulan masing-masing yang diantaranya misalnya pestisida yang terbuat dari ekstrak daun mimba, dari datayang di dapat di atas diketahui bahwa peranan waktu fermentasi sangatlah berpengaruh terhadap hasil yang didapap, pada ekstrak daun mimba membutuhkan waktu kurang lebih selama 14 hari waktu fermentasinya agar bias dijadikan pestisida yang bias mengendalikan hama. Maka dari itu peranan pestisida nabati merupakan suatu inovasi yang didapat agar tidak mengalami pencemaran lingkungan karena bias menggantikan penggunaan pestisida kimia,pestisida kimia sendiri selain berdampak pada lingkungan juga berdampak :
1. Hama menjadi kebal (resisten)
2. Peledakan hama baru (resurjensi)
3. Penumpukan residu bahan kimia di dalam hasil panen
4. Terbunuhnya musuh alami
5. Kecelakaan bagi pengguna
Untuk pestisida nabati sendiri mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh pestisida kimia dibawah ini adalah beberapa kelebihan yang dimiliki oleh pestisida nabati:
1. Degradasi/penguraian yang cepat oleh sinar matahari
2. Memiliki pengaruh yang cepat, yaitu menghentikan napsu makan serangga walaupun jarang menyebabkan kematian
3. Toksisitasnya umumnya rendah terhadap hewan dan relative lebih aman pada manusia dan lingkungan
4. Memiliki spectrum pengendalian yang luas (racun lambung dan syaraf) dan bersifat selektif
5. Dapat diandalkan untuk mengatasi OPT yang telah kebal pada pestisida kimia
6. Phitotoksitas rendah, yaitu tidak meracuni dan merusak tanaman
7. Murah dan mudah dibuat oleh petani
Selain mempunyai kelebihan pastilah ada kelemahan yang dimiliki oleh pestisida nabati dimana kelemahan-kelemahan ini menjadi pertimbangan untuk pengaplikasian penggunaan pestisida nambati.dibawah ini adalah beberapa kelemahan yang dimiliki oleh pestisida nabati :
1. Cepat terurai dan daya kerjanya relatif lambat sehingga aplikasinya harus lebih sering
2. Daya racunnya rendah (tidak langsung mematikan bagi serangga)
3. Produksinya belum dapat dilakukan dalam jumlah besar karena keterbatasan bahan baku
4. Kurang praktis
5. Tidak tahan disimpan.
Pada praktikum kali ini membuat pestisida nabati dengan tiga jenis yang berbeda yaitu ekstrak daun nimba,ekstrak daun sirsak, dan belengse. MIMBA (Azadirachta indica) mengandung senyawa aktif azadirachtin, meliantriol, dan salanin. Berbentuk tepung dari daun atau cairan minyak dari biji/buah. Efektif mencegah makan (antifeedant) bagi serangga dan mencegah serangga mendekati tanaman (repellent) dan bersifat sistemik. Mimba dapat membuat serangga mandul, karena dapat mengganggu produksi hormone dan pertumbuhan serangga.
Mimba mempunyai spectrum yang luas, efektif untuk mengendalikan serangga bertubuh lunak (200 spesies) antara lainL belalang, thrips, ulat, kupu-kupu putih, dll. Disamping itu dapat juga untuk mengendalikan jamur (fungisida) pada tahap preventif, menyebabkan spora jamur gagal berkecambah. Jamur yang dikendalikan antara lain penyebab: embun tepung, penyakit busuk, cacar daun/kudis, karat daun dan bercak daun. Dan mencegah bakteri pada embun tepung (powdery mildew). Ekstrak mimba sebaiknya disemprotkan pada tahap awal dari perkembangan serangga, disemprotkan pada dun, disiramkan pada akar agar bisa diserap tanaman dan untuk mengendalikan serangga di dalam tanah.
Bawang putih secara alami akan menolak banyak serangga. Tanamlah di sekitar pohon buah dan lahan sayuran untuk membantu mengurangi masalah-masalah serangga. Bawang putih, begitu juga dengan bawang bombai dan cabai, digiling, tambahkan air sedikit, dan kemudian diamkan sekitar 1 jam. Lalu berikan 1 sendok makan deterjen, aduk sampai rata, dan kemudian ditutup. Simpan di tempat yang dingin selama 7 - 10 hari. Bila ingin menggunakannya, campur ekstrak tersebut dengan air. Campuran ini berguna untuk membasmi berbagai hama tanaman, khususnya hortikultura.
Pestisida nabati dapat diaplikasikan dengan menggunakan alat semprot (sprayer) gendong seperti pestisida kimia pada umumnya. Namun, apabila tidak dijumpai alat semprot, aplikasi pestisida nabati dapat dilakukan dengan bantuan kuas penyapu (pengecat) dinding atau merang yang diikat. Caranya, alat tersebut dicelupkan kedalam ember yang berisi larutan pestisida nabati, kemudian dikibas-kibaskan pada tanaman.
Untuk bahan aktif yang terkandung dari setiap bahan yang dipakai adalah seperti bahan aktif yang terkandung pada daun mimba adalah azadirachtin (C35H44O16), meliantriol, salanin, nimbin, nimbidin dan bahan lainnya. ). Senyawa azadirachtin berfungsi sebagai reppelent (penolak), zat anti feedant, racun sistemik, racun kontak, zat anti fertilitas dan penghambat pertumbuhan.
Sedangkan bahan aktif yang terkandung pada Tanaman Annona muricata (sirsak) yaitu mengandung zat toksik bagi serangga hama. Serangga yang menjadi hama di lapangan maupun pada bahan simpan mengalami kelainan tingkah laku akibat bahan efektif yang terkandung pada daun sirsak. Disamping itu dapat juga menyebabkan pertumbuhan serangga terhambat.

BAB 4. KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan yang didapat diatas dapat diambil suatu kesimpulan bahwa :
1. Pestisida nabati mempunyai kelebihan yang tidak dimilki oleh pestisida kimia yaitu diantaranya adalah tingkat degradasinya kecil,tidak menyebabkan pencemaran lingkungan,cara mendapatkannya mudah dan lain sebagainya.
2. Pestisida nabati dapat membunuh atau mengganggu serangan hama dan penyakit melalui cara kerja yang unik, yaitu dapat melalui perpaduan berbagai cara atau secara tunggal.
3. Mimba, merupakan salah satu tumbuhan sumber bahan pestisida pestisida nabati yang dapat dimanfaatkan untuk pengendalian hama, pestisida nabati ekstrak mimba dilakukan pengamatan selama 15 hari.

4.2 Saran
Saran yang bias saya sampaikan terhadap praktium kali ini adalah ,dalam melakukan praktikum,atau pembuatan ekstrak pestisida nabati,sebaiknya dilakukan dengan serius dan sungguh-sungguh,karena akan mempengaruhi hasil yang diperoleh .



DAFTAR PUSTAKA

Gruber, L.C. dan George S. Karganilla, 1989. Neem Production and use. Philippine-German Biological Plant Protection Project Bureau of Plant Industry Department of Agriculture 692 San Andress Street Malate. Philippiness.

Hartati, Z. 2002. Pengujian Ekstrak Biji Daun Sirsak Untuk Mengendalikan Hama Helicoverpa armigera Pada Tanaman Tembakau Deli. Skripsi. Fakultas Pertanian, UMA. Medan .

Kardiman A dan Dhalimi A. “MIMBA (Azadirachta indica A.Juss) TANAMAN MULTI MANFAAT”. Perkembangan Teknologi TRO Vol. XI, No. 21, 2003

Kardinan, A. dan M. Iskandar. 1997. Pengaruh berbagai jenis ekstrak tanaman sebagai moluskisida nabati terhadap keong mas (Pomacea canaliculata). Jurnal Perlindungan Tanaman Indonesia. 3 (2).

Kardinan, A. 2000. Pestisida Nabati: Ramuan dan Aplikasi. Penebar Swadaya. Jakarta.

Neems Foundation. 2000. Azadirachta indica (The tree and effects on other Organism). http//www. Neems Foundation. Org.

Nurtiati, Hamidah, dan T. Widya. 2001. Pemanfaatan bioinsektisida ekstrak daun Azadirachta indica A. Juss. sebagai pengendali hayati ulat daun kubis Plutella xyclostella. J. MIPA. 6 (1)

Sudarsono. 2006. Ekstrak Biji Mimba Sebagai Pestisida Nabati: Potensi, Kendala, dan Strategi Pengembangannya.Perspektif Vol. 8 No. 2 / Desember 2009. Hlm 115 – 176.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar