Laman

Minggu, 26 Desember 2010

hama pasca panen pada ubi jalar dan cara pengendaliannya

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ubi jalar atau ketela rambat diduga berasal dari Benua Amerika. Para ahli botani dan pertanian memperkirakan daerah asal tanaman ubi jalar adalah Selandia Baru, Polinesia, dan Amerika bagian tengah. Nikolai Ivanovich Vavilov, seorang ahli botani Soviet, memastikan daerah sentrum primer asal tanaman ubi jalar adalah Amerika Tengah. Ubi jalar mulai menyebar ke seluruh dunia, terutama negara-negara beriklim tropika pada abad ke-16. Orang-orang Spanyol menyebarkan ubi jalar ke kawasan Asia, terutama Filipina, Jepang, dan Indonesia. Ubi jalar dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tahan kekeringan, dan dapat ditanam sepanjang tahun. Umumnya ubi jalar diusahakan pada lahan tegalan, kebun, dan pekarangan, serta pada lahan sawah tadah hujan (Kantor Statistik Sulawesi Selatan 1990). Ubi jalar merupakan tanaman penting ketujuh di dunia (Jansson dan Raman 1991).
Plasma nutfah (sumber genetik) tanaman ubi jalar yang tumbuh di dunia diperkirakan berjumlah lebih dari 1000 jenis, namun baru 142 jenis yang diidentifikasi oleh para peneliti. Lembaga penelitian yang menangani ubi jalar, antara lain: International Potato centre (IPC) dan Centro International de La Papa (CIP). Di Indonesia, penelitian dan pengembangan ubi jalar ditangani oleh Pusat Peneliltian dan Pengembangan Tanaman Pangan atau Balai Penelitian Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian.
Ubi jalar di Indonesia merupakan tanaman pangan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat, Di sebagian besar daerah di Indonesia, ubi jalar merupakan bahan pangan sampingan, tetapi di kawasan timur Indonesia terutama Papua, ubi jalar merupakan bahan pangan pokok. Sebagai tanaman palawija penghasil karbohidrat, ubi jalar menduduki peringkat ketiga setelah jagung dan ubi kayu,jadi peranan umbi jalar di Indonesia sangat penting.
Faktor-faktor yang mempengaruhi hasil ubi jalar antara lain adalah umur, jenis atau varietas, kesuburan tanah, tinggi tempat penanaman, iklim (musim tanam), serta gangguan hama dan penyakit. Ratusan spesies serangga dapat merusak ubi jalar, namun yang paling merusak adalah Cylas formicarius atausweet potato weevil, disebut juga kumbang penggerek umbi atau hama boleng. Selain itu, daun dari ubi jalar pun tidak dapat lepas dari serangan hama spodoptera litura atau yang lebih dikenal dengan sebutan ulat grayak. Sedangkan penyakit yang sering menyerang ubi jalar adalah penyakit bercak daun.

1.2 Tujuan
1. Unutuk mengetahui beberapa hama yang menyerang ubi jalar
2. Untuk mengetahui gejala yang tampak pada setiap penyerangan ang dilakukan oleh hama ubi jalar
3. Untuk mengetahui cara pengendalian yang dilakukan unutk meminimalisir kerugian yang diakibatkan serangan hama yang menyerang ubi jalar




BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

Ubi jalar (Ipomoea batatas Lamb.) merupakan salah satu tanaman pangan yang dapat digunakan untuk diversifikasi menu guna mempertahankan swasembada beras. Ubi jalar dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah, tahan kekeringan, dan dapat ditanam sepanjang tahun. Umumnya ubi jalar diusahakan pada lahan tegalan, kebun, dan pekarangan, serta pada lahan sawah tadah hujan (Kantor Statistik Sulawesi Selatan 1990). Ubi jalar merupakan tanaman penting ketujuh di dunia (Jansson dan Raman 1991).
C. formicarius merupakan hama utama pada ubi jalar dan tersebar diseluruh dunia (Capinera 1998; Komi 2000; Morallo dan Rejesus 2001). CIP (1991) melaporkan bahwa C. formicarius adalah hama utama dan termasuk 10 kendala utama yang perlu mendapat perhatian. Di Kenya (Afrika), hama ini merupakan kendala kedua dalam peningkatan mutu ubi jalar. Di Florida (Amerika Serikat), hama ini selalu ada sepanjang tahun (Waddil 1982), begitu pula di Indonesia, (Waluyo 1992; Nonci et al. 1994; Supriyatin 2001). C. formicarius merusak umbi di lapangan, di tempat penyimpanan, dan di karantina (Komi 2000; Sheng 2000).
Ulat grayak (Spodoptera litura F.) (Lepidoptera, Noctuidae) merupakan salah satu hama daun yang penting karena mempunyai kisaran inang yang luas meliputi kedelai, kacang tanah, kubis, ubi jalar, kentang, dan lain-lain. S. litura menyerang tanaman budidaya pada fase vegetatif yaitu memakan daun tanaman yang muda sehingga tinggal tulang daun saja dan pada fase generatif dengan memangkas polong–polong muda (Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan 1985). Menurut Adisarwanto & Widianto (1999) serangan S. litura menyebabkan kerusakan sekitar 12,5% dan lebih dari 20% pada tanaman umur lebih dari 20 hst.
Sekitar 10% petani ubi jalar di Sulawesi Selatan menggunakan insektisida untuk mengendalikan C. formicarius, Penggunaan insektisida sintetis untuk mengendalikan hama ini tetap dianjurkan, baik insektisida dalam bentuk cairan maupun butiran, terutama yang sistemik. Aplikasi insektisida pada saat tanam dapat mencegah kerusakan pada bibit, dan aplikasi setelah tanam dapat mencegah serangan C. Formicarius dari tanaman di sekitarnya. Penggunaan insektisida akan lebih baik jika dikombinasikan atau dipadukan dengan komponen-komponen pengendalian lainnya seperti varietas tahan, cara budi daya (pergiliran tanaman, tanam serempak, sanitasi), dan musuh alami (Nonci dan Sriwidodo 1993)
Hasil pengujian laboratorium di Jepang menunjukkan bahwa akar tanaman ubi jalar yang terserang kumbang C.formicarius selama 24 jam akan menghasilkan terpene phytoalexins. Diduga enzim pektolitik yang terdapat pada kumbang C. formicarius adalah terpen (Sato et al. 1982). Selanjutnya dinyatakan bahwa sisa gerekan di dalam batang menyebabkan malformasi, penebalan, dan patahnya batang rambat serta daun menjadi hijau pucat. Supriyatin (2001) mengemukakan bahwa warna jaringan di sekitar lubang gerekan pada umbi akan berubah menjadi lebih gelap dan membusuk, sehingga umbi tidak layak dikonsumsi karena rasanya pahit. Bila dikonsumsi umbi tersebut akan merangsang pembentukan senyawa toksik yang dapat mempengaruhi kerja hati dan paru-paru manusia (Supriatin 2001).
Musuh alami yang berupa pathogen belum banyak diketahui baik jenis maupun perannya. Beberapa jenis pathogen yang menjadi musuh alami C. formicarius adalah jamur, virus, bakteri, protozoa dan nematoda. Di antara jamur entomopatogenik, Beauveria bassiana adalah yang paling efektif. Mortalitas C. formicarius mencapai 80–90% jika spora B.bassiana diaplikasikan pada tanah steri (Talekar et al. 1989). Capinera (1998) menyatakan bahwa B. bassiana mampu menyebabkan kematian yang besar pada kondisi kelembapan tinggi dan kepadatan C. formicarius yang juga tinggi.




BAB 3. METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum Tekhnologi Panen Dan Pasca Panen dilakukan pada hari senin tanggal 29 Nopember 2010 dengan waktu pengamatan selama 4 minggu dilakukan di Jurusan Hama Penyakit Tanaman Laboratorium Hama Penyakit Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Jember

3.2 Bahan dan alat
3.2.1 Bahan
1. Ubi jalar sebanyak 3 kg
2. Kotak plastik

3.2.2 Alat
1. Cutter

3.3 Cara kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
2. Meletakkan ubi jalar pada kotak plastic sebanyak tiga ulangan dan di tutup.
3. Meletakkan pada tempat yang telah disediakan
4. Melakukan pengamatan setiap minggu sekali
5. Pada saat pengamatan melakukan pemotongan umbi yang terlihat terserang dan mencari hama yang berada pada umbi

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Minggu ulangan Jenis hama yang menyerang
C. formicarius Ulat grayak Kutu/kumbang

0 1 - - -
2 - - -
3 - - -

1 1 1 1 -
2 - - -
3 - - -

2 1 2 - -
2 - - -
3 - - -

3 1 2 - -
2 - - 1
3 - - -

4.2 Pembahasan
Dari data di atas terlihat bahwa hama yang menyerang ubi jalar yang terbanyak adalah hama C. formicarius dan diikuti oleh hama ulat grayak dan hama lainnya yang tidak diketahui jenisnya, dari data diatas diketahui pada minggu ke 0 tidak terdapat adanya hama yang berada pada umbinamun pada minggu pertama mulai awal pengamatan mulai terdapat serangan hama yaitu serangan C. formicarius dan ulat grayak yang dapat mengakibatkan kerusakan dan apabila terus menerus akan mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal pada ubi jalar. Dari data diketahui bahwa hanya perlakuan satu yang terdapat serangan C. formicarius hal ini mungkin disebabkan pada umbi yang berada pada perlakuan satu saja yang mengandung C. formicarius dan pada perlakuan lain tidak terdapat adanya hama C. formicarius dan hama-hama lainnya hal ,ini membuktikan bahwa C. formicarius masih dapat berkembang pada umbi yang telah di hinggapinya.
Kemudian pada minggu berikutnya yaitu minggu ke 2 hama C. formicarius mengalami perkembangan yaitu jumlahnya bertambah,hal ini mungkin larfa yang masih berada dalam umbi telah menjadi imago (C. formicarius). namun untuk ulat grayaknya sudah tidak ada,hal ini mungkin ulat grayak itu mati karena tidak tahan berada di dalam ubi,karena perlakuan yang dilakukan ubi yaitu dengan menempatkan ubi ke dalam kotak plastic, dan ulat grayak tidak tahan terhadap kondisi seperti itu.
Kemudian pada minggu berikutnya yaitu pada minggu ke 3 hama yang masih tinggal adalah C. formicarius dan jumlahnya masih tetap dan sama dengan minggu sebelumnya yaitu berjumlah 2, namun pada perlakuan 2 terdapat hama yang tidak diketahui jenisnya, dengan cirri-ciri seperti kutu dan mempunyai tanduk kecil di bagian kepalanya, mungkin bisa di gambarkan seperti kumbang yang menyerang pada beras.
Dari data diatas diketahui hama yang paling banyak menyerang ubi jalar adalah hama C. formicarius yang dapat mengakibatkan kerusakan pada ubi jalar akibat dari sarangan C. formicarius dapat mengakibatkan ubi jalar sudah tidak dapat di konsumsi dan hal ini sudah terbukti dari beberapa sumber yaitu diantaranya Hasil pengujian laboratorium di Jepang menunjukkan bahwa akar tanaman ubi jalar yang terserang kumbang C.formicarius selama 24 jam akan menghasilkan terpene phytoalexins. Diduga enzim pektolitik yang terdapat pada kumbang C. formicarius adalah terpen (Sato et al. 1982). Selanjutnya dinyatakan bahwa sisa gerekan di dalam batang menyebabkan malformasi, penebalan, dan patahnya batang rambat serta daun menjadi hijau pucat. Supriyatin (2001) mengemukakan bahwa warna jaringan di sekitar lubang gerekan pada umbi akan berubah menjadi lebih gelap dan membusuk, sehingga umbi tidak layak dikonsumsi karena rasanya pahit. Bila dikonsumsi umbi tersebut akan merangsang pembentukan senyawa toksik yang dapat mempengaruhi kerja hati dan paru-paru manusia (Supriatin 2001).
Dari pernyataan tersebut maka perlu adanya tindakan untuk mencegah terjadinya serangan yang dapat mengakibatkan kerusakan yang fatal dan dapat merugikan petani dan juga merudak kesehatan bagi yang telah mengkonsumsinya tindakan yang dilakukan adalah dengan dua cara yaitu tindakan secara prefentif dan tindakan secara kuratif. Dimana tindakan-tindakan tersebut sangat membantu untuk mengurangi atau meminimalisir tingkat serangan yang bisa terjadi. Tindakan secara prefentif adalah tindakan-tindakan yang dilakukan sebelum terkadi serangan yang bertujuan untuk mencegah adanya serangan yang mungkin bisa masuk,dan tindakan secara kuratif adalah tindakan yang dilakukan setelah terjadi serangan atau bisa dikatakan tindakan yang dilakukan pada saat ubi mengalami serangan.
Pengendalian menggunakan cara prefentif,yaitu dengan melakukan beberapa cara dengan menerapkan konsep pengendalian hama terpadu (PHT). PHT merupakan pendekatan ekologi dalam pengelolaan agroekosistem. Oleh karena itu, PHT mengutamakan berfungsinya mekanisme pengendalian alami yang secara dinamis dapat menjaga populasi hama tetap berada pada keseimbangan umum yang rendah. Komponen PHT meliputi peng gunaan varietas tahan, teknik bercocok tanam, musuh alami, dan penggunaan pestisida bila diperlukan. CABI (2001) melaporkan bahwa beberapa komponen pengendalian C. formicarius yang telah diteliti meliputi teknik bercocok tanam, pemusnahan inang antara, serta peng- gunaan varietas tahan, musuh alami, dan seks feromon.
Pengendalian menggunakan musuh alami merupakan pengendalian yang cukup efektif. Musuh alami yang berupa pathogen belum banyak diketahui baik jenis maupun perannya. Beberapa jenis pathogen yang menjadi musuh alami C. formicarius adalah jamur, virus, bakteri, protozoa, dan nematoda. Di antara jamur entomopatogenik, Beauveria bassiana adalah yang paling efektif. Mortalitas C. formicarius mencapai 80–90% jika spora B.bassiana diaplikasikan pada tanah steril(Talekar et al. 1989). Capinera (1998) menyatakan bahwa B. bassiana mampu menyebabkan kematian yang besar pada kondisi kelembapan tinggi dan kepadatanC. formicarius yang juga tinggi.
Untuk pengendalian secara kuratif yaitu dengan melakukan pemotongan umbi yang telah terserang dan membuangnya, hal ini merupakan salah satu cara agar serangan yang duakibatkan tidak menyebar ke seluruh bagian umbi dan juga dengan menyortir umbi yang telah terserang dengan mengelompokkan tingkat kerusakannya dengan begitu kita dapat mengetahui mana yang masih bisa di pertahankan, cara ini merupakan cara yang efektif karena melihat adanya tingkat kerusakannya, apabila tidak dilakukan maka akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar,sehingga kerugoiannyapun semakin besar apabila tidak dilakukan.
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Dari data serta hasil dan literature yang ada dapat di ambil suatu kesimpulan bahwa :
1. Beberapa hama penting yang menyerang ubi jalar diantaranya adalah Cylas formicarius dan ulat grayak yang dapat mengakibatkan tingkat kerusakan yang akan mengakibatkan tingkat kerugian yang sangat besar untuk ubi jalar.
2. Gejala yang tampak pada ubi setelah terserang hama Cylas formicarius adalah,ubi tampak berlobang dan terdapat warna hitam yang mengandung zat beracun yang dapat mengakibatkan penyakit apabila di konsumsi manusia.
3. Cara pengendaliannya yaitu secara prefentif dan kiratif, unutk pengendalian secara prefentif yatu pengendalian atau pencegahan seberlum terjadi serangan, dan pengendalian secara kuratif adalah pengendalian yang dilakukan apabila ubi sudah mengalami serangan.

5.2 Saran
Saran yang bisa sampaikan adalah, untuk mencegah serangan yang bisa berlanjut dan dapat mengakibatkan kerusakan yang besar, maka kita harus mengetahui dan dapat memperhatikan ambang ekonominya,apabila kerusakan itu akan berlanjut maka harus segera dilakukan pengendalian

DAFTAR PUSTAKA

Capinera, J.L. 1998. Sweet Potato Weevil, Cylas formicarius (Fabricius). Institute of Food and Agricultural Sciences. University of Florida. 7 pp.

Jansson, R.K., H.H. Bryan, and K.A. Sorensen.1987. Within-vine distribution and damage of sweet potato weevil, Cylas formicarius elegentulus (Coleoptera: Curculionidae), on four cultivars of sweet potato in Southern Florida. Florida Entomologist 70(4): 523−526.

Nonci, N., Sriwidodo, dan A. Muis. 1994.Pengendalian hama penggerek ubi Cylas formicarius dengan insektisida pada beberapa varietas ubi jalar. Agrikam, Penelitian Pertanian Maros (no. 3): 139−146.

Sato, K., I. Uritani, and T. Saito. 1982. Properties of terpene-inducing factor extracted from adults of the sweet potato weevil, Cylas formicarius Fabricius (Coleoptera: Brethidae). Appl. Entomol. Zool. 17(3): 368−374.

Supriyatin. 2001. Hama boleng pada ubi jalar dan cara pengendaliannya. Palawija (no. 2):22−29.

Talekar, N.S., R.M. Lain, and K.W. Cheng. 1989.Integrated control of sweet potato weevil at Penghu Island. Plant Prot. Bull. (Taiwan) 31: 175−189.

Waddil, V.H. 1982. Control of the sweet potato weevil, Cylas formicarius elegantulus by foliar application of insecticides. Proceeding of the First International Symposium AVRDC Taiwan. p. 157−169.

Waluyo. 1992. Perbanyakan hama lanas Cylas formicarius F. di gudang. Dalam S. Hardjosumadi,Prosiding Seminar Hasil Penelitian Tanaman Pangan. Balai Penelitian Tanaman Pangan Bogor. hlm.33−35.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar